Makalah tentang “STUDY KASUS MENGENAI SISTEM RELIGI”

Posted by Odilio arys hafidh aziz On Selasa, 29 Januari 2013 0 komentar



Arif  Wicaksono (04)
Odilio A H A (18)
Restu Agustina (23)
Risma Dwi P (25)
 



KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas STUDY KASUS MENGENAI SISTEM RELIGI yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang “STUDY KASUS MENGENAI SISTEM RELIGI” .Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada guru  pembimbing yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.






Penulis
DAFTAR ISI
Judul.............................................................................................................. (Halaman 1)
Katapengantar............................................................................................ (Halaman 2)
Daftar isi .......................................................................................................(Halaman 3)
BAB I PENDAHULUAN DAN ISI
A. LATAR BELAKANG MASALAH  ..........................................................(Halaman 4)
B. Teori Religi dalam kehidupan manusia..............................................(Halaman 5)

C. Teori-teori agama dalam kehidupan manusia................................(Halaman 7)

D. Agama dalam konteks Wahyu Tuhan.............................................(Halaman 10)
E.Sistem Religi Awal di indonesia...........................................................(Halaman ­15)
F.SISTEM KEPERCAYAAN AWAL MASYARAKAT DI INDONESIA ....................( Halaman ­15)


BAB II PENUTUP

A. SIMPULAN........................................................................................ (Halaman 16)

B. Daftar Pustaka. ................................................................................ (Halaman 17)


















A.    LATAR BELAKANG MASALAH 

            Kemampuan otak manusia untuk membentuk gagasan-gagasan dari konsep-konsep
dalam akalnya menyebabkan bahwa ia mampu membayangkanan dirinya sendiri terlepas dari
lingkungannnya, yang merupakan dasar dari kesadaran akan identitas dan kepribadian
dirinya. Berbagai jenis hewan juga memiliki identitas diri, namun kesadaran akan identitas itu tidaklah setajam manusia, karena dangan akalnya manusia memiliki kemampuan untuk
membayangkan peristiwa-peristiwa yang mungkin menimpa dirinya, baik yang
membahagiakannya maupun yang dapat membawa kesengsaraan baginya. Sesuatu hal yang
paling ditakuti manusia adalah apa yang pasti akan dialaminya, yaitu saat manusia
menghadapi maut, yang kemudian merupakan salah satu sebab timbulnya religi.
 Sekurangnya ada dua konsep umum yang menerangkan tentang ‘kepercayaan’ kepada Tuhan atau sesuatu yang dianggap Tuhan, yaitu antara konsep agama dan konsep religi. Koentjaraningrat (1987), sebagai salah seorang tokoh antropologi terkemuka di Indonesia,  mengatakan bahawa religi adalah sebagai bagian dari kebudayaan; dalam banyak hal yang membahas tentang konsep ketuhanan beliau lebih menghindari istilah ‘agama’ , dan lebih menggunakan istilah yang lebih netral, yaitu ‘religi’. Ada juga yang berpendirian bahwa suatu sistem religi merupakan suatu agama,tetapi itu hanya berlaku bagi penganutnya saja; sistem religi Islam merupakan agama bagi anggota umat Islam, sistem religi Hindu Dharma merupakan suatu agama bagi orang Bali; ada juga pendirian lain yang mengatakan bahwa agama adalah semua sistem religi yang secara resmi diakui oleh negara.
 Sebenarnya pendapat Koentjaraningrat di atas yang mengatakan bahwa religi adalah
bagian dari kebudayaan karena beliau mengacu pada sebagain konsep yang dikembangkan
oleh Emile Durkheim (1912) mengenai dasar-dasar religi dengan empat dasar komponen,
yaitu :
1. emosi keagamaan, sebagai suatu substansi yang menyebabkan manusia menjadi
religius;
2. sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan serta bayangan-bayangan manusia
tentang sifat-sifat Tuhan atau yang dianggap sebagai Tuhan, serta tentang wujud dari
alam gaib (supernatural); 
3. Sistem upacara religius yang bertujuan mencari hubungan manusia dengan Tuhan,
Dewa-dewa atau Mahluk-mahluk halus yang mendiami alam gaib;
4. kelompok-kelompok religius atau kesatuan-kesatuan sosial yang menganut sistem
kepercayaan tersebut 

            Menurut konsep ilmu pengetahuan dan agama-agama yang ada di muka bumi ini menyatakan bahwa suatu bentuk aktifitas manusia yang dianggap sebagai suatu penyerahan diri terhadap Zat yang dianggap mengatur, menciptakan, atau menentukan kehidupan manusia di dunia dimana manusia hidup dan di dunia dimana manusia sudah mati yang mengacu kepada konsep E. Durkheim di atas dapat disebut sebagai agama.

            Tidak semua perilaku keagamaan atau religi itu adalah khas manusia; untuk ajaran
Islam misalnya bahkan hampir seluruh aktifitas keagamaan itu sumbernya adalah wahyu
Tuhan, dan hanya sedikit sekali unsur-unsur gagasan manusia disana, demikian juga dengan
agama-agama yang lain yang menganggap berbagai aktifitas itu sumbernya adalah Tuhan.
            Disini agama itu dipisahkan dengan kebudayaan, pada aktifitas-aktifitas tertentu yang tujuannnya adalah penyerahan diri (taat, bakti, doa, pemujaan, penyembahan dan sebagainya) pada Tuhan atau yang dianggap sebagai Tuhan, walaupun ada gagasan-gagasan atau tangantangan manusia yang turut di dalamnya merupakan aktifitas keagamaan; dilain fihak,segala bentuk tindakan, gagasan, dan hasil tindakan khas manusia yang relatif tidak melibatkan unsur-unsur keagamaan atau tidak dimaksudkan sebagai bentuk ritual tertentu, itulah kebudayaan. 

B.Teori religi dalam kehidupan manusia

1. Teori religi dalam kehidupan manusia terdahulu
             Edward B Tylor (1873), dianggap sebagai bapak antropologi, mengemukakan teori
tentang jiwa; dikatakannya asal mula religi itu adalah kesadaran manusia akan faham jiwa
atau soul, kesadaran mana yang pada dasarnya disebabkan oleh dua hal :
a. Perbedaan yang tampak pada manusia mengenai hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati; suatu mahluk pada satu saat dapat bergerak-gerak, berbicara, makan, menangis,
berlari-lari dan sebagainya, artinya mahluk itu ada dalam keadaan hidup; tetapi pada
saat yang lain mahluk itu seolah-olah tidak melakukan aktifitas apa-apa, tidak ada
tanda-tanda gerak pada mahluk itu, artinya makluh itu telah mati. Demikian lambat
laun manusia mulai sadar bahwa gerak dalam alam itu, atau hidup itu, disebabkan
oleh sesuatu hal yang ada di samping tubuh-jasmani, dan kekuatan-kekuatan itulah
yang disebut sebagi jiwa.
b. Peristiwa mimpi; dalam mimpinya manusia melihat dirinya di tempat-tempat
laindaripada tempat tidurnya . Demikian, manusia mulai membedakan antara tubuh
jasmaninya yang ada di tempat tidur, dan suatu bagian lain dari dirinya yang pergi ke
tempat-tempat lain; bagian lain itulah yang disebut sebagai jiwa.

            Sifat abstrak dari jiwa tadi menimbulkan keyakinan diantara manusia bahwa
jiwadapat hidup langsung, lepas dari tubuh jasmani. Pada waktu hidup, jiwa masih
berangkutan dengan tubuh jasmani, dan hanya dapat meninggalkan tubuh waktu manusia
tidur dan waktu manusia tidak sadarkan diri (pingsan). Karena pada suatu saat serupa  itu
kekuatan hidup pergi melayang-leyang, maka tubuh berada dalam keadaan yang lemah.
Namun menurut Tylor. Walaupun melayang, hubungan jiwa dengan jasmani pada saat-saat
seperti tidar atau pingsan, tetap ada.  Hanya pada waktu seorang manusia mati, jiwa itu pergi melepaskan diri dari hubungan tubuh-jasmani untuk selama-lamanya. 
 Dengan peristiwa-peristiwa di atas nyata terlihat, kalau tubuh-jasmani sudah hancur
berubah menjadi debu di dalam tanah atau hilang berganti abu didalam api upacara
pembakaran mayat, maka jiwa yang telah merdeka lepas dari jasmani itu dapat berbuat
sekehendak hatinya. Menurut keyakinan ini maka alam semesta ini penuh dengan jiwa-jiwa
yang merdeka, dan tidak disebut sebagai  jiwa  lagi, tetapi dikatakan sebagai mahluk halus
atau spirit; demikian pikiran manusia telah mentransformasikan kesadarannya akan adanya
jiwa menjadi kepercayaan kepada mahluk-mahluk halus.
            Pada tingkat tertua di dalam evolusi religinya manusia percaya bahwa mahluk-mahluk halus itulah yang menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia. Mahluk-mahluk halus tadi, yang tinggal dekat sekeliling tempat tinggal manusia, dianggap bertubuh halus sehingga tidak dapat tertangkap oleh pancaindera manusia, yang mampu berbuat hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia, mendapat suatu tempat yang amat penting di dalam kehidupan manusia sehingga menjadi obyek penghormatan, pemujaan, dan penyembahannya, dengan berbagai upacara keagamaan berupa doa, sajian atau korban. Pada tingkat religi semacam ini oleh Tylor disebut sebagai animism.         
 Pada tingkat kedua di dalam evolusi religi manusia percaya bahwa gerak alam hidup
itu juga disebabkan oleh adanya jiwa yang ada di belakang peristiwa dan gejala alam itu;
sungai-sungai yang mengalir dan terjun dari gunung ke laut, gunung yang meletus, gempa
bumi yang merusak, angin taufan yang menderu, matahari yang menerangi bumi, berseminya tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya semuanya disebabkan oleh jiwa alam; dalam kemudian, jiwa alam ini dipersonifikasikan, dianggap oleh manusia  sebagai mahluk-mahluk dengan suatu kepribadian, pikiran, dan kemauan. Mahluk-mahluk halus yang ada di belakang gerak alam serupa ini disebut dengan Dewa-dewa alam.   

Pada tingkat ketiga dalam evolusi religi, bersama-sama dengan timbulnya susunan
kenegaraan di dalam kehidupan masyarakat , timbul pula kepercayaan bahwa alam Dewa-dewa

Itu juga hidup di dalam suatu susunan seperti kenegaraan di atas, serupa dengan
kehidupan manusia; dengan demikian seolah-olah ada suatu susunan pangkat Dewa-dewa
mulai dari raja Dewa sebagai Dewa yang tertinggi, sampai dengan dewa-dewa yang terendah.Suatu susunan seperti itu lambat laun akan menimbulkan suatu kesadaran bahwa semua dewa itu pada hakekatnya hanya merupakan penjelmaan saja dari satu dewa yang tertinggi. Akibat dari kepercayaan itu adalah berkembangnya kepercayaan kepada satu Tuhan yang Esa, dan timbulnya agama-agama monotheisme.

C.Teori-teori agama pada kehidupan manusia kemudian

2. Teori-teori agama pada kehidupan manusia kemudian

2.1. Teori Batas Akal
             Teori religi tentang batas akal ini dikembangkan oleh J.G. Frazer (1890) yang
berpedoman bahwa manusia dalam kehidupannya senantiasa memecahkan berbagai persoalan hidup dengan perantaraan akal dan ilmu pengetahuan; namun dalam kenyataannya  bahwa akal dan sistem pengetahuan itu itu sangat terbatas sekali. Makin maju kebudayaan manusia, makin luas batas akal itu, tetapi dalam banyak kebudayaan batas akal manusia masih amat sempit. Persoalan hidup yang tidak bisa dipecahkan dengan akal, dicoba dipecahkannya dengan melalui magic, ialah ilmu gaib. Magic diartikan sebagai segala perbuatan manusia untuk mencapai suatu maksud melalui kekuatan-kekuatan yang ada pada alam, serta seluruh kompleks anggapan yang ada di belakangnya; pada mulanya manusia hanya mempergunakan ilmu gaib untuk memecehkan segala persoalan hidup yang ada di luar batas kemampuan dan pengetahuan akalnya. Religi waktu itu belum ada dalam kebudayaan manusia, lambat laun terbukti bahwa banyak dari perbuatan magic itu tidak menunjukkan hasil yang diharapkan, maka pada saat itu orang mulai percaya bahwa alam itu didiami oleh mahlu-mahluk halus yang lebih berkuasa darinya, maka mulailah manusia mencari hubungan dengan mahluk-mahluk halus yang mendiami alam itu, dan timbullah religi.
           
Menurut Frazer,  memang ada suatu perbedaan yang besar antara magic dan religi;
magic adalah segala sistem perbuatan dan sikap manusia untuk mencapai suatu maksud
dengan menguasai dan mempergunakan kekuatan dan hkum-hukum gaib yang ada di dalam
alam. Sebaliknya,religi adalah segala sistem perbuatan manusia untuk mencapai suatu maksud dengan cara menyandarkan diri religi kepada kemauan dan kekuasaan mahluk-mahluk halus seperti ruh-ruh, dewa, dan sebagainya.

2.2. Teori masa Krisis Dalam Hidup Individu
             Pandangan tentang masa-masa krisis ini disampaikan oleh M. Crawley (1905) dan
A.Van Gennep (1909); menurut ke dua orang ini, dalam jangka waktu hidupnya, manusia
mengalami banyak krisis yang menjadi sering obyek perhatian dan  dianggap sebagai suatu
yang menakutkan. Bertapapun bahagianya hidup orang, entah sering atau jarang terjadi
bahwa orang itu akan ingat akan kemungkinan-kemungkinan timbulnya krisis dalam
hidupnya; krisis –krisis itu terutama berupa bencana-bencana sekitar sakit dan maut (mati),
suatu keadaan yang sukar bahkan tidak dapat dikuasai dengan segala kepandaian, kekuasaan, atau harta benda kekayaan yang mungkin dimilkinya.
 Dalam jangka waktu hidup manusia, ada berbagaimasa dimana kemungkinan adanyansakit maut ini besar sekali, yaitu misalnya saat kanak-kanak, masa peralihan dari usia pemuda ke dewasa , masa hamil, masa kelahiran, dan akhirnya maut. Van Gennep menyebut masamasa itu sebagai crisis rites atau rites de passage. Dalam menghadapi masa krisis serupa itu manusia butuh melakukan perbuatan untuk memperteguh imannya dan menguatkan dirinya;perbuatan serupa itu , yang berupa upacara-upacara pada masa krisis tadi itulah yang merupakan pangkal dari religi dan bentuk-bentuk religi yang tertua.

2.3. Teori Kekuatan Luar Biasa  
            Pendirian ini dikemukakakan oleh seorang sarjana antropologi Inggris R.R. Marett; (
1909) salah satu dasar munculnya teori ini adalah sebagai sanggahan terhadap teori religi
yang dikemukakanoleh E.B. Tylor mengenai timbulnya kesadaran manusia akan jiwa;
menurut Marett, kesadaran tersebut adalah hal yang bersifat terlalu kompleks bagi pikiran
manusia yang baru ada pada tingkat-tingkat permulaan kehidupannya di muka bumi ini.
Menurut Marett, pangkal daripada segala kelakuan agama ditimbulkan karena suatu perasaan rendah terhadap gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa yang dianggap sebagai biasa dalam kehidupan manusia. Alam, tempat gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa itu berasal, yang dianggap oleh manusia dahulu sebagai tempat adanya kekuatan-kekuatan yang melebihi kekuatan-kekuatan yang telah dikenal manusia dalam alam sekelilingnya, disebut the supernatural.  Gejala-gejala, hal-hal, dan peristiwa-peristiwa yang luas biasa itu dianggap akibat dari suatu kekuatan supernatural, atau kekuatan luar biasa atau kekuatan sakti.   Adapun kepercayaan kepada suatu kekuatan sakti yang ada dalam gejala-gejala, hal-hal,dan peristiwa-peristiwa yang luar biasa tadi, oleh Marett dianggap sebagai suatu
kepercayaan yang ada pada mahluk manusia sebelum ia percaya kepada mahluk halus dan
ruh; dengan perkataan lain, sebelum ada kepercayaan animisme maka ada satu bentuk
kepercayaan lain yang oleh Marett disebutnya sebagai praeanimisme.

2.4. Teori Sentimen Kemasyarakatan
          Teori ini berasal dari seorang sarjana ilmu filsafat dan sosiologi bangsa Perancis,
Emile Durkheim (1912)

Teori itu berpusat kepada beberapa pengertian dasar, ialah:
a)  Mahluk manusia dalam kala ia baru timbul di muka bumi, mengembangkan aktivitas
religi itu tidak karena ia mempunyai di dalam alam pikirannya bayangan-bayangan
abstrak tentang jiwa, ialah suatu kekuatan yang menyebabkan hidup dan gerak di
dalam alam, tetapi karena suatu getaran jiwa, suatu emosi keagamaan, yang timbul di
dalam jiwa manusia dahulu, karena pengaruh suatu rasa sentimen kemasyarakatan.
b) Sentimen kemasyarakatan itu dalam batin manusia dahulu berupa suatu kompleks
perasaan yang mengandung rasa terikat, rasa bakti, rasa cinta, dan sebagainya,
terhadap masyarakatnya sendiri, yang merupakan seluruh alam dunia dimana ia hidup.
c) Sentimen kemasyarakatan yang menyebabkan timbulnya emosi keagamaan, yang
sebaliknya merupakan pangkal daripada segala kelakuan keagamaan manusia itu, tentu
tidak selalu berkobar-kobar dalam alam batinnya. Apabila tidak dipelihara, maka
sentimen kemasyarakatan itu menjadi lemah dan laten, sehingga  perlu dikobarkan
kembali. Salah satu cara untuk mengobarkan kembali sentimen kemasyarakatan adalah
dengan mengadakan suatu kontraksi masyarakat, artinya dengan mengumpulkan
seluruh masyarakat dalam pertemuan-pertemuan raksasa  yang bernuansa religius.
d) Emosi keagamaan yang timbul karena rasa sentimen kemasyarakatan, membutuhkan
suatu objek tujuan. Sifat apakah yang menyebabkan barang sesuatu hal itu menjadi
objek daripada emosi keagamaan bukan terutama sifat luar biasanya, bukan pula sifat
anaehnya, bukan sifat megahnya, bukan sifat ajaibnya, melainkan tekanan anggapan
umum dalam masyarakat. Obyek itu salah sesuatu peristiwa kebetulan di dalam sejarah
daripada kehidupan sesuatu masyarakat di dalam waktu yang lampau menarik
perhatian banyak orang di dalam masyarakat. Objek yang menjadi tujuan emosi
keagamaan itu juga mempunyai objek yang bersifat keramat, bersifat sacre (sakral),
berlawanan dengan objek lain yang tidak mendapat nilai keagamaan (ritual value) itu,
ialah objek yang tak keramat atau profane.(profan).
e) Objek keramat sebenarnya tidak lain daripada suatu lambang masyarakat. Pada suku-suku bangsa asli benua Australia misalnya, objek keramat, pusat tujuan daripada
sentimen-sentimen kemasyarakatan, sering juga sejenis binatang, tumbuh-tumbuhan,
tetapi sering juga objek keramat itu berupa benda. Oleh para sarjana objek keramat itu
disebut  totem (jenis binatang atau lain objek) itu mengkonkritkan prinsip totem yang
ada di belakangnya, dan prinsip totem  itu adalah suatu kelompok tertentu di dalam
masyarkat, berupa clan atau lainnya. 

 Pendirian-pendirian tersebut pertama di atas, ialah emosi keagamaan dan sentimen
kemasyarakatan, adalah menurut Durkheim, pengertian-pengertian dasar yang merupakan inti daripada tiap religi; sedangkan ketiga pengertian lainnya, ialah kontraksi masyarakat,
kesadaran akan objek keramat berlawanan dengan objek tak-keramat, dan totem sebagai
lambang masyarakat, bermaksud memelihara kehidupan daripada inti. Kontraksi masyarakat, obyek keramat dan totem akan menjelmakan (a) upacara, (b) kepercayaan dan (c) mitologi. Ketiga unsur tersebut terakhir ini menentukan bentuk lahir daripada sesuatu religi di dalam sesuatu masyarakat tertentu.



D. Agama dalam konteks wahyu Tuhan

Dilihat dari sudut asal-usul manusia misalnya, agama-agama besar khususnya agama
Islam dan agama Nasrani agama-agama yang relatif tradisional, mengatakan bahwa manusia
itu diciptakan sekali saja oleh Tuhan dan umat manusia yang ada sekarang ini adalah
keturunan dari manusia yang pertama itu. Dalam rangka peninjauan tersebut, manusia
berbeda dengan mahluk-mahluk ciptaan Tuhan lainnya; manusia berbeda secara hakekat dan secara prinsip dengan hewan. Seorang ahli antropologi, Ralph Linton (1984), mengatakan bahwa apabila kita membuat perbandingan antara tinjauan agama dengan tinjauan ilmiah terhadap keberadaan manusia, memang masing-masing berbeda tetapi bukan berarti bertentangan.  ‘Prediksi’ asal mula manusia dari bentuk yang sangat sederhana sampai bentuk yang sempurna seperti sekarang ini. Teori evolusi manusia yang pernah menggemparkan dunia ini akhirnya runtuh juga, salah satu sosok yang meruntuhkannya adalah serangan dari para agamawan yang menolak bahwa manusia pertama yang digambarkannya tidak mungkin serendah itu, manusia adalah manusia, bukan mahluk lain.
            Bila kita lihat lebih dalam lagi, kita akan mengetahui bahwa tinjauan ilmu
pengetahuan tentang evolusi asal mula manusia, semata-mata merupakan penyelidikan
tentang mekanisme penciptaan; ajaran evolusionisme struktural dengan pengamatannya dapat memetakan berbagai bentuk-bentuk baru yang secara biologis memang mungkin terjadi dan mengalami perubahan; tetapi ilmu pengetahuan tidak dapat menetapkan kekuatan-kekuatan apakah yang menyebabkan adanya perkembangan evolusi dari seluruh mahluk hidup, selain ketidak mampuannya untuk meramalkan arah daripada perubahan-perubahan itu. Ilmu pengetahuan dapat membuktikan bahwa kehidupan yang asal-usulnya tidak diketahui itu berkembang dari bentuk yang sederhana  menjadi yang lebih kompleks, tetapi ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan secara empirik Penggerak pertama dari segala perubahan itu, ilmu pengetahuan juga tidak dapat menguraikan tentang Prima Causa dari segala yang hidup.
           
Apabila ilmu pengetahuan bertugas untuk tetnang kenyataan dan keadaan kehidupan
sebagaimana adanya sekarang dan di masa lalu, maka tugas agama atau religi adalah untuk
menunjukkkan bagaimana manusia itu harus hidup. Dalam hubungan ini Mohammad Hatta
mengemukakan mengenai hubungan antara ilmu dan agama, bahwa memang ada berlainan
keinsafan antara ilmu dan agama , tetapi bukan berarti bertentangan, lingkup ilmu yaitu
berkisar mengenai pengetahuan yang pelitanya terletak di otak manusia, sedangkan agama
adalah soal kepercayaan yang pelitanya terletak di hati.
 Di Indonesia, dimana landasan kehidupan sosial, budaya , dan kenegaraan adalah
Pancasila,di mana tiap-tiap anggota masyarakat dapat memeluk agama-agamanya sendiri,
orang bebas bertanya sepanjang pertanyaan itu tidak mengingkari ajaran-ajaran agama. Di
dalam agama inilah emosi manusia menemui muara kebebasan, dan sebagai manusia yang
beriman kita percaya bahwa seluruh alam semesta ini dengan hukum-hukum alamnya yang
ada dan masih dicari-cari oleh manusia, semua adalah kreasi dari Tuhan Yang Mahaesa;
bahwa dibelakang segala fenomena alam ini terdapat Maha Penggerak yang tidak digerakkan,
Gaya Ghaib, Prima Causa, dan kita memandang isi alam semesta ini sebagai menifestasi
kebesaran Tuhan.   
 Dalam konteks antropologi, teori Firman Tuhan pada mula-mulanya berasal dari
seorang sarjanan antropologi bangsa Austria bernama W.Schmidt (1913); Sebelum Schmidt,
sebenarnya ada sarjana lain yang pernah mengajukan juga pendirian tersebut, yaitu seorang
ahli kesusateraan bangsa inggris, bernama A.Lang (1889).
 Sebagai ahli kesusasteraan, Lang telah banyak membaca tentang kesusasteraan rakyat
dari banyak suku di dunia. Di dalam dongeng-dongeng itu, Lang sering mendapatkan adanya
seorang tokoh dewa yang oleh suku-suku bangsa bersangkutan di anggap dewa tertinggi,
pencipta seluruh alam semesta serta isinya, dan penjaga ketertiban alam dan kesusilaan.
Kepercayaan kepada seorang tokoh dewa serupa itu menurut Lang terutama tanpak pada
suku-suku bangsa yang amat rendah tingkat kebudayaannya, dan yang hidup dari berburu
atau meramu, ialah misalnya suku-suku bangsa yang berburu di daerah Gurun Kalahari di
Afrika Selatan, yang biasanya disebut orang Bushman, suku-suku bangsa asli benua
Australia, suku-suku bangsa Negrito di daerah hutan rimba di Kamerun dan Kongo, Afrika
Tengah, penduduk kepulauan Andaman, penduduk Pegunungan Tengah di Irian Timur, dan
juga beberapa bangsa penduduk asli Benua Amerika Utara.
 Berbagai hal membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak timbul sebagai akibat
pengaruh agama Nasrani atau Islam, sebagai dua agama besar yang menyebar di seluruh
dunia, maka kepercayaan tadi malahan tampak seolah-olah terdesak kebelakang oleh
kepercayaan kepada mahluk-mahluk halus, dewa-dewa, ruh , hantu dsb. A.Lang
berkesimpulan bahwa kepercayaan kepada dewa tertinggi adalah suatu kepercayaan yang
sudah amat tua, dan mungkin merupakan bentuk religi manusia yang tertua. Angapan A.Lang
terurai di atas, tak lama kemudian di olah lebih lanjut oleh W.Schmidt. Tokoh besar dalam
antropologi ini adalah gurubesar pada satu perguruan tinggi yang pusat mula-mulanya di
Australia, kemudian di Swiss, umtuk mendididk calon-calon pendeta penyiar agama katholik
dari organisasi Societas Verbi Devini. Di dalam kedudukan serupa itu maka mudah dapat
dimengerti  bagaimana anggapan bahwa adanya kepercayaan kepada dewa-dewa tertinggi di
dalam alam jiwa bangsa-bangsa yang masih amat cocok dengan dasar-dasar cara befikir
W.Schmidt dan juga dengan filsafatnya sebagaia orang pendeta agama Katholik.
  Di dalam hubungan itu beliau percaya bahwa agama itu berasal dari titah Tuhan yang
diturunkan kepada mahluk manusia pada masa permulaan ia muncul di muka bumi ini.
Karena itulah, adanya tanda-tanda daripada suatu kepercayaan kepada dewa pencipta. Justru
kepada bangsa-bangsa yang lebih rendah tingkat kebudayaanya (artinya yang paling tua
menurut Schmidt) memperkuat anggapanya mengenai adanya Titah Tuhan asli, atau yang
disebutnya sebagai Uroffenbarung. Demikianlah kepercayaan yang asli  yang bersih kepada
Tuhan, atau kepercayaan Urmonotheismus tadi itu malahan ada pada bangsa-bangsa lain yang
tua yang hidup pada zaman  ketika tingkat kebudayaan manusia masih rendah. Di dalam
zaman kemudian, ketika makin maju kebudayaan manusia, maka makin kaburlah
kepercayaan asli terhadap Tuhan; makin banyak kebutuhan manusia, makin terdesaklah
kepercayaan asli itu oleh pemujaan kepada mahluk-mahluk halus, roh,  dewa dsb.
 Angapan Schmidt terurai diatas dianut oleh beberapa orang sarjana yang untuk
sebagian besar bekrja sebagai penyiar agam Nasrani dan organisasi societas verbi Divini.
Disamping menjalankan tugas sebagai penyiar agama Nasrani di dalam berbagai daerah di
muka bumi, mereka melakukan penelitian-penelitian antropologi budaya berdasarkan atas
anggapan-anggapan pokok daripada guru mereka. Demikian antara lain, sarjana-sarjana itu
mencari di dalam kebudayaan-kebudayaan di daerah mereka masing-masing akan adanya
tanda-tanda suatu kepercayaan kepada dewa tertinggi.          







            Sistem kayakinan secara khusus mengandung benyak sub-unsur lagi. Dalam rangka ini para ahli antroplogi biasanya menaruh perhatian terhadap konsepsi tentang dewa-dewa yang baik maupun yang jahat; sifat-sifat dan tanda-tanda dewa-dewa; konsepsi tentang mahluk-mahluk halus lainya seperti roh-roh leluhur, roh-roh lain yang baik maupuan yang jahat, hantu dan lain-lain; konsepsi tentang dewa tertinggi dan pencipta alam; masalah terciptanya dunia dan alam (kosmologi); masalah mengenai bentuk dan sifat-sifat dunia dan alam (kosmologi); konsepsi tentang hidup dan mati’ konsepsi tentang dunia roh dan dunia akhirat lain-lain.

Adapun sistem kepercayaan dan gagasan, pelajaran aturan agama, dongeng suci tengtang riwayat-riwayat dewa-dewa (mitologi), biasanya tercantum dalam suatu himpunan buku-buku yang biasanya juga dianggap sebagai kesusastraan suci.

Sistem upacara keagaman secara khusus mengandung emosi aspek yang menjadi perhatian khusus dari para hali antroplogi ialah:
(i)tempat upacara keagamaan dilakukan;
(ii)saat-saat upacara keagmaan dijalankan;
(iii)benda-benda dan alat-alat upacara;
(iv)orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara.

Aspek yang pertama berhubungan dengan tempat-tempat keramat di mana upacara dilakukan, yaitu makam, candi, pura, kuil, gereja, langgar, surau, mesjid dan sebagainya. Aspek ke-2 adalah aspek yang mengenai saat-saat beribadah, hari-hari keramat dan suci dan sebagainya. Aspek k-3 adalah tentang benda-benda ynag dipakai dalam upacara termasuk patung-patung yang melambngkan dewa-dewa, alat-alat bunyi-bunyian seperti lonceng suci, seruling suci, gendering suci dan sebagainya. Aspek ke-4 adalah aspek yang mengani para pelaku upacara keagamaan, yaitu pendeta biksu, syaman, dukun dan lain-lain.

Upacara itu sendiri banyak juga unsurnya, yaitu:

i.bersaji,
ii.berkorban;
iii.berdo’a;
iv.makan ebrsama makanann yang telah disucikan dengan do’a;
v.menari tarian suci;
vi.menyanyi nyanyian suci;
vii.berpropesi atau berpawai;
viii.memainkan seni darama suci;
ix.berpuasa;
x.intolsikasi atau menaburkan pikiran     dengan makan obat bius unutk mencapai keadaan trance, mabuk;
xi.bertapa;
xii.bersemedi.


Sub-unsur ke-3 dalam rangka religi, adalah sub-unsur mengenai umat yang menganut agama atau religi yang bersangkutan khusus sub-unsur itu meliputi misalnya soal-soal pengikut agama, hubungannya satu dengan lain hubungan dengan para pemimpin agama, baik dalam saat adanya upcara keagamaan maupun adalam kehidupan sehai-hari; dan akhirnya sub-unsur itu juga meliputi soal-soal seperti organisasi para umat, kewajiban, serta hak-hak para warganya.

Pokok-pokok khusus dalam rangka sistem ilmu gaib, atau magic, pada lahirnya memang sering tampak sama dengan dalam sistem religi. Dalam ilmu gaib sering terdapatjuga konsepsi-konsepsi dan ajaran-ajarannya; ilmu gaib juga mempunyai sekelompok manusia yang yakin dan yang menjalankan ilmu gaib itu untuk mencapai suatu maksud. Kecuali itu, upacara ilmu gaib juga mempunyai aspek-aspek yang sama saat-saat tertentu unutk mengadakan upacara (biasanya juga pada saat-saat atau hari-hari keramat); ada peralatan untuk melakukan upacara, dan ada tempat-tempat tertentu di mana upacara harus dilakukan. Akhirnya suatu upacara ilmu gaib seringkali juga mengandung unsur-unsur upacara yang sama dengan upacara religi pada umumnya. Misalnya; orang melakukan ilmu gaib untuk menambah kekatan ayam yang hendak diadunya dalam suatu pertandingan adu ayam. Untuk itu dia membuat obat gaib dengan sajian kepada roh-roh, serta dengan mengucapkan doa kepada dewa-dewa, serta dengan mengucapkan mantra-mantra tertentu, dan dengan puasa. Dengan melakukan hal-hal itu semua ia percaya bahwa obat gaib untuk ayam jantannya akan mujarab sekali.

Walaupun pada lahirnya religi dan ilmu gaib sering kelihatan sama, dan walaupun sukar untuk menentukan batas daripada upacara yang bersifat religi, dan upacara yang bersifat ilmu gaib, pada dasarnya ada juga suatu perbedaan yang besar sekali antara kedua pokok itu. Perbedaan dasarnya terletak dalam sikap manusia pada waktu ia sedang menjalankan agama, manusia bersikap menyerahkan diri sama sekali kepada Tuhan, kepada dewa-dewa, kepada roh nenek moyang; pokoknya menyerahkan diri samasekali kepada kekuatan tinggi yang disembanhnya itu. Dalam hal itu manusia biasanya terhinggap oleh suatu emosi keagamaan. Sebaliknya, pada waktu menjalankan ilmu gaib manusia bersikaplain samasekali. Ia berusaha memperlakukan kekuatan-kekuatan tinggi dan gaib agar menjalankan kehendaknya dan berbuat apa yang ia capainya.










E.Sistem Religi Awal Masyarakat Indonesia

Description: http://1.bp.blogspot.com/-zBu6RkdZS1Q/TZ6pXGaZduI/AAAAAAAAAOo/QUzYMYu_hac/s200/animisme.jpeg
            Menurut mereka, agama merupakan keyakinan kepada sejumlah kekuatan yang ada di luar atau lebih tinggi dari manusia sebagai tempat memohon dan meminta petunjuk tentang jalan kehidupan. Kekuatan tersebut bisa berupa makhluk halus yang menghuni gunung, batu besar, pohon, binatang atau makhluk yang tidak berwujud tapi menguasai daerah tersebut dan nenek moyang.
            Animisme adalah suatu kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus
            Dinamisme adalah suatu kepercayaan terhadap benda-benda.
Kegiatan religi dalam praktiknya memerlukan suatu alat yang dianggap suci dalam bentuk simbol yang diyakini memiliki kekuatan gaib dan dapat mempersatukan mereka yang disebut totem. Setiap kelompok memiliki totemnya masing-masing.
Religi juga dapat muncul dari Magic, contoh dukun yang sedang melakukan pengobatan terhadap warganya yang sakit, dimana kesembuhan tersebut dianggap ditolong oleh roh nenek moyang melalui perantara dukun yang bersangkutan.
            Religi yang dilakukan manusia dalam hubungannya dengan alam selalu menyangkut   3 faktor, yaitu :
            1. Alat-alat yang digunakan
            2. Ritual keagamaan
            3. Mantera-mantera


F.SISTEM KEPERCAYAAN AWAL MASYARAKAT DI INDONESIA

a. Animisme    = makhluk hidup & benda mati memiliki roh yg punya kekuatan dahsyat
b. Dinamisme  = setiap benda mempunyai tenaga / kekuatan gaib
c. Feteyisme     = benda buatan manusia (jimat, keris, dll) punya kekuatan gaib
d. Syamanisme = orang yang hidup dapat berhubungan dgn roh melalui medium seperti orang yang punya kelebihan, orang mati yang keramat, atau benda mati  (jelangkung, dll)
e. Monoisme-dualisme= segala sesuatu berawal dari satu, lalu menjelma jadi dua
f. Magi/magis             = orang-orang tertentu punya kekuatan luar biasa yg tidak dimiliki awam


BAB II
A.KESIMPULAN
Agama adalah sebuah keyakinan akan sesuatu yang kekal dan memberikan mereka kehidupan.Agama menjadi Suatu hak khusus yang di miliki bangsa indonesia dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem kehidupan itu mencakup seluruh aspek kehidupan serta seluruh warga negara dan agama termasuk dalam segala aspek kehidupan misal di indonesia misal sebagai bagian budaya dan lain-lain.















B.Daftar Pustaka
Anderson, O’C, Benedict R-Nakamura, Mitsou-Slamet, Mohammad. (1996). Religion Social
Ethos-Agama dan etos sosial di Indonesia (terj.), penerbit PT Alma Arif Bandung.
Boelaars, Y. (1984). Kepribadian Indonesia Modern, Suatu Peelitian Antropologi Budaya.
Jakarta: PT Gramedia
Geertz, Clifford. (1989). Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. (terj.). Jakarta.
PT Dunia Puataka Jaya.
Harsoyo. (1999). Pengantar Antropologi; Bandung: Penerbit Putra A Bardin  
Koentjaraningrat. (1987). Kebudayaan, Mentalitet  dan Pembangunan, Jakarta: Penerbit PT
Gramedia.

comments powered by Disqus